8/07/2010

Guru Edan

 oleh firdaus bin musa



Siswa-siswa SLTPN 03 Harapan Banjir kelurahan Kampung Karam tampaknya berhati gembira. Salah satu guru yang kebanyakan mereka benci, Pak Kusam, telah pindah dari sekolah mereka. Kepergian Pak Kusam yang pemarah dan peradang dirayakan secara khusus oleh anak-anak kelas dua dan tiga dengan mengadakan acara pertandingan sepakbola. Dalam pertandingan ini, ketua OSIS sebelumnya berkata,” Teman-teman, ini bukan pertandingan sepakbola biasa. Yang penting bukan kalah atau menang, tapi bagaimana merasakan nikmat bersama menendang kepala Pak Kusam yang kita misalkan sebagai bola-nya.” Bola itu mereka sepak dan mainkan dengan suka ria sampai hancur tanpa bentuk di akhir pertandingan.
Sebagai guru matematika, Pak Kusam digantikan satu minggu kemudian oleh guru baru. Dia adalah seorang pemuda yang pada hari itu berusia tiga puluh satu tahun, dua bulan lewat tujuh hari, dan dari segi penampilan seperti orang biasa saja.
“ Adik-adik, hari ini kita langsung saja belajar,” kata guru baru itu di hari pertamanya mengajar di kelas 2 A.
“ Siapa namanya Paak ?” Tanya para siswa kepadanya.
Lelaki itu lalu menuliskan namanya di papan tulis: Samir.
Siswa-siswa lalu tertawa, dan salah satu yang terusil berkomentar.
“Namanya Samir kok sepatunya tidak disemir Pak,” diimbuhi tawa sejumlah siswa.
Guru baru itu diam saja dan tanpa ambil pusing langsung mengembangkan pelajaran tentang trigonometri.
Hari itu tak terlalu berkesan.

Dua minggu adalah empat belas hari. Itu pun berlalu.
Di lokal 3 C.
Guru baru itu mengajar pakai sandal jepit. Satu kuning dan satunya merah. Dan dia pun berkata, “ Adik-adik, sebenarnya Bapak mau menyampaikan sebuah rahasia.”
Para siswa menanggapi serius raut mukanya yang serius. Tapi tak menjawab.
“ Langsung saja ya. Selama Bapak mengajar di sini tidak akan terjadi banjir.”
Para siswa tertawa, “ Kenapa Pak?”
“ Karena Bapak pakai sandal mengajar. Itu salah satunya...”
Beni, salah satu siswa 3 C dengan imajinasi terliar berpikir di hatinya,” Aku kira Bapak ini akan menyuruh kami memakai sandal ke sekolah.”
“…maka tirulah Bapak, maka banjir yang biasanya sekali dua minggu terjadi tidak akan terjadi lagi,” pesannya.
Anak-anak tertawa lagi. Tertawa dan percaya.
Tiga hari kemudian, siswa-siswa kelas 2A, 2D, 3A dan 3C pakai sandal ke sekolah, kecuali 12 orang. Guru-guru lain memarahi mereka dengan satu inti pesan: yang bersandal ke sekolah silakan pulang. Dan mereka menanya alasan mengapa para siswa seperti itu, dan salah satu dari mereka menjawab,” Pak Samir Pak, Pak Samir Buk.”
Maka ditanyalah Pak Samir.
“ Ya, sayalah yang menyuruh mereka, dan itulah yang terbaik.”
“ Sebagai guru baru, Anda tak patut seperti itu.”
Dan hari itu pidatolah salah seorang guru yang dituakan setelah mengumpulkan mereka sebelum pulang,” Besok, siapa yang pakai sandal musti gotong royong membersihkan WC dan halaman.”
Ternyata besoknya hari Minggu. Dan malam itu hujan. Seninnya, sekolah pun banjir. Para siswa tak ada yang memakai sandal, dan Samir tak ada juga jadwal mengajar.
Selasa, Samir mengajar di 3A. Dia pakai sandal belang belang dan pakai sarung serta kopiah. Siswa-siswa tertawa melihatnya. Pas masuk lokal itu, ada yang bertanya,” Pak, kemarin banjir. Bapak telah mendustai kami dengan mengatakan selama Bapak di sini banjir tiada lagi.”
Dengan santai, Pak Samir menjawab dengan kata-kata berirama,” Selama kalian patuhi kata-kataku tiada lagi banjir akan mengganggu. Karena kalian pakai sepatu di hari itu, maka banjir pun datang tepat waktu.”
Besoknya, siswa-siswa 3A pakai sandal, sarung dan kopiah. Laki-laki dan perempuan, total 26 orang. Siswa-siswa 2A, 2D dan 3C bertanya ke siswa-siswa itu. Yang ditanya menjawab,” Patuhilah kata-kata Pak Samir yang keramat maka kalian pun akan selamat!”
Besoknya lagi, hampir semua siswa di empat kelas itu pakai sandal, sarung dan kopiah sehingga penampilan sekolah menjadi kacau. Guru-guru tak habis pikir dan menyuruh pulang siswa-siswa itu dan untuk kesekian kali memanggil Pak Samir. Kebetulan hari itu kepala sekolah ada untuk menceramahinya dan intinya hanya ini: sebagai guru baru Pak Samir tak patut seperti itu.
“Bapak jangan mengatur saya. Saya mau pakai sandal atau sarung atau bawa kapak dan cilurit itu urusan saya. Urus sajalah diri Bapak sendiri. Tapi ingat, selama saya dipatuhi para siswa sekolah ini akan bahagia dan sentosa,” jawab Samir dengan wajah serius.
Hari itu juga, kepala sekolah dan beberapa guru senior rapat.
“ Ini si Samir telah menggelisahkan kita. Dalam waktu kurang dari sebulan dia telah menyesatkan para siswa. Apa tindakan kita?”
Pak Asmat sebagai yang tertua menjawab,” Siswa-siswa kita memang nakal-nakal dibanding siswa-siswa dari 136 SMP yang ada di pulau ini. Jadi menurut saya biarkan saja si Samir. Menurut saya, anjuran-anjurannya masuk akal.”
“ Pak Asmat, Bapak telah ikut tersesat ! Menurut saya, si Samir itu ditendang saja dari sekolah ini Pak Kepala Sekolah. Habis perkara,” saran Pak Amsat, yang memang punya dendam kesumat 12 generasi terhadap keluarga Pak Asmat.
Pak kepala sekolah ikuti nasehat Pak Amsat, bukannya Pak Asmat, karena Pak Amsat ini adalah suami dari anak sepupu kakek istrinya sementara Pak Asmat selain jadi guru sejarah juga kadang-kadang jadi tukang becak di pasar.
………………..

Diskusi Berpetaka



Di tengah kota, di dalam gedung yang setelah kejadian itu selalu menangis penduduk-penduduk yang melewatinya, sampai akhirnya gedung itu dinyatakan angker oleh walikota dan ketua Perkumpulan Dukun Nasional (PDN) dengan sebuah rumah sakit berlantai empat yang tidak berfungsi lagi di belakangnya.

Seorang gila yang lewat di sana bertanya pada angin yang bertiup sayu, “Apakah pula ‘kejadian itu’?

*
Dulu, dua bulan lalu, di dalam gedung itu diadakan diskusi besar yang diadakan oleh Klub Peduli Budaya Dikusi (KPBD). Dalam memulai acara moderator memberi pembukaan dengan suaranya yang merdu.

“ Saudara-Saudara, hari ini kita adakan diskusi dengan tema ‘Menciptakan Budaya Diskusi yang Sangat Tenang’. Sangat tenang saya katakan, karena sebenarnya diskusi-diskusi yang dilakukan sebenarnya sudah tenang, tapi bagaimana agar ketenangan dalam diskusi itu menjadi ketenangan abadi pada tiap acara diskusi itulah ilmu yang ingin kita dapat dari kesempatan ini. Nah, untuk itu saya perkenalkan dua pembicara dari UNLEN (Universitas Lengang Nasional), pertama Prof. Dr. Ir. Samin Hiroek , M.Sc., guru besar ilmu penenang dan Dr. Rarau Putra, spesialis tenar ilmu menenangkan tangis anak-anak dan balita. Baiklah, untuk menyunat waktu, kita persilahkan mereka untuk maju.”

Kedua pembicara pun maju dan membaca makalahnya sepuluh menit satu-satu. Setelah selesai, moderator membuka termin untuk menyilakan para peserta diskusi untuk menyampaikan pertanyaan, saran atau tanggapan yang berbagai-bagai.

Di barisan muka, dua orang tampak berebut mendapatkan mikrofon untuk bisa memberikan tanggapan. Mereka dorong-dorongan, tampar-tamparan sampai pukul-pukulan, sehingga suasana diskusi jadi ribut. Setelah usaha keras dengan mata lebam dan bibir berdarah, seorang tinggi kurus berhasil meraih mikrofon dan berkata,” Saudara penyaji, bagaimanakah caranya agar diskusi jadi tenang jika perusak suasana dan tukang hardik hadir pula dalam diskusi ini?”

Kawannya tadi langsung bersorak dengan suara menghardik,” Hai, akukah yang kauhina, kutunggu kau nanti di Simpang Tiga. Bawalah seluruh anak dan kemenakanmu, sedikit pun aku takkan ragu!” Katanya sambil menunjuk-nunjuk dan menuju kursi kembali duduk.

Penyaji menjawab, yang pertama Prof. Hiroek, ia berkata,” Suatu diskusi takkan pernah tenang, jika seorang peribut juga turut datang, apalagi jika peributnya itu sendiri jadi penyaji, dalam diskusi di hari ini. Adalah karena ulah-ulahnya, cucu saya sendiri jadi kehilangan suara.” Entah tentang siapa dia bicara.

Doktor Rarau pun langsung memotong,” Ha! Profesor menghina saya?! Tolonglah dijaga sedikit mulutnya.”

“ Iya, tentang siapa lagi aku bicara, karena engkau lah cucu ku hilang suara.”

“ Ha-ha-ha, itulah yang cucu Profesor amat pantas dapatkan. Sebagai pakar saya lebih tahu apa yang harus dilakukan. He-he.”

“ Gelak pula kau beruk, cuih…!” Profesor pun langsung meludah ke muka Dr. Rarau. Dr. Rarau membalas ludahannya tak kalah kerasnya, sehingga terjadi perang ludah antara mereka berdua. Peserta diskusi yang menanggapi tadi meludahi pula kawannya yang menghardiknya tadi karena kebetulan berhampiran kursi di barisan muka. Lama kelamaan, kawan-kawan yang simpati dengannya meludahi lawannya pula bersama-sama. Kawan-kawan lawannya itu pun maju pula, sehingga terjadilah perang ludah besar-besaran yang melibatkan seluruh peserta dan pembicara. Adapun moderator yang tak bisa berbuat apa-apa, karena tidak punya rekan untuk diludahi pula akhirnya ikut terbawa suasana dengan melakukan senam yang sering dilakukan anak durhaka, yakni senam geleng, tiap menggeleng meludah juga. Ludah meludah, dahak mendahak, terjadi 30 menit. Lalu, mereka berhenti dan meminum air yang disediakan di tempat diskusi. Kemudian perang ludah dilanjutkan lagi, kini 25 menit saja. Di sela-selanya, 5 anak gelandangan masuk menyuruk-nyuruk untuk “mandi gratis” sambil membawa handuk.

Setelah habis ludah mereka, dilanjutkan dengan tawuran, sepak terjang, tumbuk ganyang, banting hempas selama 2 jam. Akhirnya, semua mereka terkapar, dan dibawa ke rumah sakit di belakangnya yang bernama RS Dr. Abu Bakar. Semuanya pingsan satu hari, dan setelah sadar lagi berkelahi lagi bersama-sama hingga terjadi kebakaran amat besar. Tak sempat mereka lari, semuanya terbakar, kecuali satu orang yang selamat.

Begitulah ceritanya sesuai yang didapat dari berbagai sumber terpercaya.

*
Orang gila yang bertanya tadi lalu mengangguk dan berlalu. Orang gila itu tak lain tak bukan adalah seorang yang selamat dari kebakaran tadi, sekaligus mantan moderator diskusi bertragedi, yang jadi gila karena depresi dan juga salah urat akibat berjam-jam menggeleng tanpa henti.***

Ada Hantu di Jembatan

Parman tinggal di sebuah desa tapi kerja di sebuah kota. Pulang balik dari desa ke kota adalah kerjanya empat hari seminggu. Di kota, kerjanya beragam , mulai dari tukang sampah, tukang angkat atau kuli panggul, sampai tukang becak dan tukang pacul. Sesekali juga tukang cukur rambut. Dia merasa hidupnya itu sebenarnya lebih kepada enak daripada tidak, condong ke bahagia dari menderita, makanya dia suka beli surat kabar. Di surat kabar banyak berita tentang kotanya dan kota-kota lain di daerahnya, berita nasional sampai berita internasional. Kebiasaannya ini ditekuni semenjak dia dikasih selembar kertas koran oleh seorang berpakaian compang camping yang misterius. Pesannya,” Bawalah lembar koran ini pulang, rebus sampai hancur dan campur dengan garam, lalu minum airnya!” Parman waktu itu tertawa. Dia hampir yakin bahwa orang yang ditemuinya itu sudah gila, tapi sewaktu dalam perjalanan pulang sore ke desa dia menyempatkan juga merebus dan meminum air koran itu di tempat kosnya. “Siapa tahu enak,” pikirnya. Pas setelah meminumnya, dia merasa energinya bertambah, semangat hidupnya jadi meningkat, dan pemandangannya mendadak cerah. Tapi, mulanya dia tidak mengalamatkan akibat-akibat positif itu sebagai efek substansi minuman, tapi sebagai efek dari perasaan enaknya minuman tersebut. Namun, sejak itu, dia punya kebiasaan baru, yakni suka membeli koran.
Penjual Koran langganannya sebenarnya agak heran mengapa langganannya itu sejak tiga tahun ini membeli Koran-korannya. Dia dari awal tahu bahwa Parman tidak bisa membaca dan bahkan tak pernah terlihat membuka-buka halaman-halaman koran dengan rasa tertarik. Koran dibeli, dilipat lalu dimasukkan ke dalam tas begitu saja. Suatu hari dia pernah bertanya pada Parman untuk menghindari prasangka buruk. Parman menjawab” Koran ini enak”. Penjual koran tertawa, tapi entah apa yang ditertawakannya Parman tak bertanya.

Di desa Parman ada sebuah jembatan. Jembatan beton. Dikasih nama oleh orang-orang desa: Jembatan Rakyat. Di jembatan itu ada seseorang rutin hampir tiap hari duduk-duduk di atasnya. Orangnya sudah tua. Dia juga dianggap sudah “kena“ oleh banyak orang. Saban sore dia sudah di sana, tak peduli hujan ataupun panas. Selama lebih kurang satu jam dia duduk-duduk sambil menyapa-nyapa orang-orang lewat, tertawa-tawa sendiri, melihat-lihat ke kali atau sekedar tidur-tiduran. Parman sering bicara dengannya. Artinya, Parman juga sering duduk-duduk di sana. Mereka bercakap-cakap tentang berbagai hal, mulai dari cuaca yang tidak bersahabat, tentang sawah, ladang, ayam, harimau, and so on and so forth. Sering juga Parman membawa minuman untuk mereka berdua, tidak lain dan tidak bukan minuman spesial air koran ramuan Parman. Orang tua itu paling senang dengan minuman Parman. Katanya sehari tidak minum minuman Parman membuat hati jadi

4/22/2010

bicara cinta pada islam

 oleh firdaus bin musa



kenapa sesuatu itu mesti antara, antara sebelum alam dunia dan sesudah dunia ada alam kandungan antara bumi dan langit ada diriku, antara kafir dan beriman ada munafik dan fasik, dan antara jahat dan baik ada kebenaran, antara halal dan haram ada subhat, antara laki-laki dan perempuan ada banci. dan antara..antara lainnya, sekali lagi kenapa musti ada antara

terkadang hati, dan akal ini jadi raja tapi terkadang nafsu juga jadi raja dalam diri kita, lalu dimana keagungan allah itu ditempatkan sebagai sang maha diraja

semestinya kita tidak hanya sekedar tahu, tapi bagaimana kita juga harus bisa berbuat

sesuatu indah tapi keindahannya tidak berarti ketika hati gelisah, dan sering kegelisahan itu diakibatkan karena kemaksiatan kita kepada-Nya, dan sebesar-besar kemaksiatan ialah kita tidak mau merubah diri dan memperjuangakn sesuatu yang akan menyebabkan kita terjerumus kepada kepada kemaksiatan yangt berlarut-larut, a...palagi kalau bukan memperjuangkan syari'at dibawah naungan khilafah

membiasakan yang sudah biasa itu tidak luar biasa, tapi mewujudkan yang belum didepan mata itu baru luar biasa seperti perjuangan menegakkan syari'ah dan khilafah, siapa yang ingin jadi orang yang luar biasa cepat naik gerbong yang yang utama

benarlah sebuah kata hatiku ini dikala yakni"sederet kata tidak mampu untuk telinga yang tersumbat dinding kuning penguasa, maka jalan lain yang musti kita tempuh, tapi mana jalan lain itu yaitu jalan taqwa (dengan memperlihatkan aksi, sambil menawarkan solusi, dan tidak bersimbahkan caci)


lamunan itu berubah firasat, firasat berubah sak wasangka, syu'zhan itu berubah jadi tahayul terus tahayul berubah menjadi penyekutuan, tapi semua itu masih belum nampak sedang yg nyata itu penyekutuan dalam pembuatan hukum, manusia membuat hukum untuk mengatur dirinya sendiri seolah ia lebih hbat pula dari tuhannya



lumut itu tumbuh menghancurkan keindahan dari kerasnya batu, ia tumbuh menjadi penyejuk mata dari jarak jauh tapi ia juga membuat daku jadi buta kebenaran mana yg musti aku salahkan apakah batu, atau lumut, yang jelas setelah ku punya islam aku tidak pernah menyalahkan makhluk-Nya, karena setiap makhluk itu ditumbuhkan... tentulah ada sesuatu yg bisa dipetik keberadaannya, apalagi makhluk itu tidak berakal sedangkan yg berakal saja ia tidak bisa berbakti pada tuhan-Nya apalagi yg tidak berakal, wahai lumut dan batu kau inspirasi bahasa lisanku

hati-hati syabab dan syabah

hati-hati para syabab dan syabah

oleh firdaus bin musa

berikut korban
ta'aruf lewat facebook BELAKANGAN ini ta’aruf mengalami
penyempitan makna. Bahkan dalam praktiknya, banyak yang
mengidentikkan ta’aruf dengan pacaran. Salah satu penyebabnya adalah
maraknya ta’aruf yang dilakukan oleh para ikhwan maupun akhwat di
dunia maya. Padahal, sejatinya...... yang mereka lakukan itu adalah pacaran
berkedok ta’aruf, karena dalam aksinya, tiada lagi hijab dalam
interaksi bagi akhwat dan ikhwan bukan mahram, seakan bebas landas,
curhat di jejaring sosial facebook, hujat-hujatan. Itulah pacaran
terselubung dengan membawa topeng ta’aruf.Ikhwan-ikhwan yang
menggunakan profil islami tak pernah kehabisan ide dalam melegalkan
pacaran. Jika orang-orang yang tidak membawa agama berani terang-terangan
mengatakan pacaran, tapi tidak dengan pemuda pemudi yang berciri
khas agama, mereka berpacaran dengan embel-embel ta’aruf.Entah
apa yang ada di benak mereka, apakah ta’aruf dipahami sesuai syariat atau
sengaja menyelewengkan dari makna yang sebenarnya, banyak ikhwan dengan
mudahnya mengatakan ingin ta’aruf dengan akhwat yang diincarnya melalui
dunia maya tanpa perantara pihak ketiga.Komentar-komentar
di jejaring sosial sudah sulit lagi dipilah, mana yang untuk umum mana yang
harusnya dijadikan rahasia dirinya dengan Allah, facebook menjadi keranjang
sampah juga menjadi diary bagi sebagian orang. Akhwat dan ikhwan
berpacaran pun sudah mulai berani membuat status in relationship dengan
pasangan yang disebutnya sedang ta’aruf. ... Komentar-komentar
di jejaring sosial sudah sulit lagi dipilah, mana yang pacaran dan
mana yang ta’aruf. Belum ada ikatan apapun mereka sudah berani
memanggil umi-abi...Tak sedikit juga ikhwan genit dan akhwat
ganjen saling memberi perhatian di tempat umum. “Sudah shalatkah ukhti?
Jangan telat makan ya..” tulis sang ikhwan. Sang akhwat pun tak mau
kalah, membalasnya dengan kata-kata senada, “Syukron ya akhi atas perhatiannya,
semangat belajar ya.”Ada pula komentar yang lebih liar, “Eh
iya ukhti kelihatan anggun dengan jilbab itu, hehehehe.” Maka si
akhwat balik menjawab, “Ah, akhi nih bisa aja, ntar ana GR nih, heeeeee…”
Masya Allah, itukah yang disebut ta’aruf?Dulu penulis banyak
menemukan pencerahan di dunia maya dengan banyak berteman, namun jadi
ilfil (ilang feeling) setelah mengetahui sepak terjang beberapa ikhwan
akhwat, teriaknya agama, tapi murah terhadap lawan jenis, menebar
simpati dan basa-basi.Mereka memakai kedok ta’aruf untuk melegalkan
pacaran. Belum ada ikatan apapun sudah berani memanggil “umi-abi”
atau “abang-adik.” Tak sedikit pula ditemui akhwat berjilbab lebar
yang masih membudidayakan pacaran. Tanpa malu-malu lagi. Apakah semua
itu dilakukan karena ketidaktahuan akhwat tentang bagaimana Islam mengatur
pergaulan dengan lawan jenis? Wallahu a’lam. Yang pasti ada juga
yang biasa berkomentar pacaran haram, tapi dirinya masih juga berpacaran,
namun memakai kedok ta’aruf. Padahal praktiknya sami mawon.
...akhwat jangan mudah terpedaya pada ikhwan di dunia maya yang belum
diketahui secara jelas identitasnya...Hendaknya benar-benar
lurus memahami kata ta’aruf seperti yang diajarkan oleh Nabi kita,
jangan sampai menjadikan ta’aruf untuk menghancurkan keagungan Islam.
Telah jelas dalam Islam, bagaimana hendaknya kita menjaga diri kita
agar tidak terjatuh pada perkara-perkara yang membuat Allah murka. Jangan
memakai istilah ta’aruf jika hanya sebatas ingin menjadi uji coba
bermain hati.Hati akhwat biasanya lembut dan mudah tersentuh, korban
yang pertama akan merasakan terluka oleh ta’aruf coba-coba tadi tentunya
para akhwat. Begitu juga para akhwat, jangan mudah terpedaya pada
ikhwan dunia maya yang belum diketahui secara jelas identitasnya. Apa
yang ditampilkan dalam dunia maya, profil, kata-kata, tidak dapat dijadikan
tolak ukur untuk menilai karakter yang sesungguhnya, juga tidak
dapat cukup untuk menggambarkan pribadinya secara utuh, tetap waspada.
[Yuli Anna Pendamba Surga/voa-islam.com]

2/21/2010

Mmahasiswa AS Ditahan karena Belajar Bahasa Arab

Mahasiswa AS Ditahan karena Belajar Bahasa Arab WASHINGTON- Seorang mahasiswa AS ditahan di bandara karena kedapatan membawa kartu-kartu bertuliskan bahasa arab. Nicholas George mahasiswa asal California yang berusia 22 tahun itu, sempat diinterogasi selama lima jam dikaitkan dengan terorisme. Ia sempat diborgol dan diperlakukan layaknya pesakitan. George melalui Organisasi pembela hak-hak sipil, American Civil Liberties Union (ACLU), kemudian mengajukan tuntutan terhadap agen FBI dan polisi. Akibat penahanan di bandara itu, George ketinggalan pesawat ke California dan terpaksa bolos kuliah. Ia juga memprotes penahanannya yang dikaitkan dengan buku yang dibawanya, yang berjudul “Rogue Nation: American Unilateralism and the Failure of Good Intentions,” karangan Clyde Prestowitz. Pemeriksaan yang dilakukan oleh staf Administrasi Keamanan Transportasi AS (TSA) menahan George dan ia merasa hal itu merupakan pelecehan berat. Selama berjam-jam ia dicecar pertanyaan seputar pandangannya mengenai peristiwa 9/11. George ditanya apakah dia tahu “siapa yang melakukan 9 / 11,” bahasa apa yang digunakan pemimpin Al Qaidah Osama bin Laden dan mengapa kartu-kartu bahasa inggris-arab itu “mencurigakan.” Ia kemudian diborgol dan ditinggalkan di sel terkunci selama dua jam sebelum dua agen FBI menginterogasinya. ACLU menambahkan bahwa klien mereka tidak pernah diberitahu tentang hak-haknya atau menjelaskan mengapa ia ditahan. George mengambil jurusan fisika sekaligus studi Timur Tengah belajar di Pomona College, California. Saat diinetrogasi, ia juga ditanyai tentang perjalanannya ke negara-negara muslim dan berbahasa Arab, termasuk Yordania di mana dia menghabiskan satu semester belajar di luar negeri, dan yang juga dicecar mengenai siapa saja yang ia temui di sana. “Sebagai orang yang bepergian dengan pesawat, saya ingin petugas bandara melakukan tugas mereka untuk menjaga penerbangan aman, tapi saya tidak mengerti bagaimana menahan dan melecehkan saya hanya karena aku membawa flashcards membuat orang lebih aman” paparnya seperti dilansifr AFP. Gugatan ini menitikberatkan pada tuduhan pelanggaran hak konstitusional untuk kebebasan berbicara dan untuk bebas dari tekanan yang tidak masuk akal. George telah belajar bahasa Arab sejak tahun pertamanya di universitas untuk dapat membaca dan memahami apa yang sedang dilaporkan dan diperdebatkan di surat kabar Timur Tengah, program televisi dan publikasi atau media lain. Dengan menggunakan kartu-kartu kecil, bertuliskan huruf arab di satu sisi dan artinya dalam bahasa inggris di sisi lain, ujar George, sangat membantunya belajar bahasa. George mengaku belajar bahasa Arab karena bahasa ini digunakan oleh puluhan juta orang di seluruh dunia dan ia menganggap tidak ada salahnya dengan itu. “Apa salahnya belajar baasa Arab,” tukasnya. Pengacara ACLU menganggap langkah ini merupakan pelecehan dan hambatan bagi para pengguna transportasi udara, buang-buang waktu dan pelanggaran Undang-Undang Dasar.” (republika.co.id, 11/2/2010

Gema Penolakan Valentine’s Day

Gema Penolakan Valentine’s Day di Jatinangor

JATINANGOR, HTI Press. Hizbut Tahrir Indonesia Kampus Unpad (HTIKU) dan LDK DKM Universitas Padjadjaran mengadakan pekan penolakan Valentine’s Day. Di mulai pada aksi damai HTIKU di depan gerbang lama kampus unpad. Aksi yang di ikuti oleh aktivis syabab HTI itu menyeru kepada mahasiswa Unpad untuk menolak Valentine day. Dalam aksi ini, orasi pertama di sampaikan oleh Adi Muchti Achdiyat menjelaskan akibat total dari kehidupan pergaulan bebas secara umum. Kemudian orasi berikutnya di sampaikan oleh Tri Kusyuhono SAK, S.Pt sebagai Direktur Opini dan Media HTIKU menyampaikan sekelumit dan seruan agar kembali ke islam. Orasi berikutnya juga di lanjutkan oleh HUMAS HTIKU, Fahrur Rozy menjelaskan tentang akibat valentine dan solusi hanya mampu ditegakan melalui islam sebagai solusinya. Kegiatan aksi di tutup dengan pernyataan sikap dari ketua HTI Kampus UNPAD,Andre Husnari.

Kemudian kegiatan bertema, “Kampanye Penanggulangan Pergaulan Bebas” yang dilakukan LDK DKM UNPAD juga merupakan kampanye penolakan terhadap Valentine’s Day. Pada acara yang digalang di kampus UNPAD-Jatinangor puluhan mahasiswa sepakat menolak Valentine’s Day dengan menorehkan dukungan berupa tanda tangan di Spanduk bertuliskan penggalangan tanda tangan tolak valentine’s Day. Kegiatan tersebut di isi pula oleh Taufik Abdul Karim (DPD 1 HTI Jabar/Direktur Khalifa Consultant) yang banyak mengetengahkan masalah pergaulan yang pernah di jumpai dan solusinya dalam islam. Kemudian kampanye dilanjutkan di Pondok Pesantren Siswa Al-Ma’soem yang dihadiri 400-an peserta, Rizqi Awal selaku ketua LDK DKM Unpad yang mengisi training pergaulan islam mengajak serta kepada peserta untuk berjanji menolak valentine’s Day. Kegiatan ini pun dilanjutkan ke SMAN 1 Jatinangor, dan lagi-lagi peserta bersepakat untuk menolak Valentine Day’s setelah memperhatikan training yang dibawakan Rizqi Awal.

Kegiatan ini, diakhiri dengan aksi damai cinta jatinangor Hizbut Tahrir Indonesia bersama Ummat. Kegiatan ini dilepas oleh Kapolsek Jatinangor dengan ditandai serah terima Ar-Royyah dari kapolsek Jatinangor kepada pimipinan Aksi. Aksi ini diisi oleh orasi-orasi oleh Hisyam Mansur,S.IP (HTI DPC Jatinangor/Presiden Komunitas Intelektual Perkotaan Jawa Barat), dilanjutkan Ust.Izzudin selaku ulama Sumedang, kemudian Rizqi Awal (Ketua LDK DKM Universitas Padjadjaran), Rahman Hakim, S.Si (Pakar Pendidikan/Staff Pengajar Pendidikan Al-Ma’soem) dan orasi diakhiri oleh Ust. Rudi Harjo, S.Pt selaku ketua HTI DPC Jatinangor. Pernyataan sikap disampaikan oleh Andre Husnari selaku ketua HTIKU dengan mengatakan bahwa solusi tuntas atas permasalahan ini hanya dapat dilakukan oleh negara dan itu hanya terwujud bila islam diterapkan sebagai aturan hidup. dan ditutup dengan Doa oleh KH Ali Bayinullah (Ulama Sumedang). Aksi ini berakhir dengan penandatanganan penolakan terhadap kehidupan pergaulan bebas oleh Kapolsek Jatinangor dan Ketua HTI DPC Jatinangor dan komponen ummat dan individu yang ikut serta dalam aksi tersebut.
MC membawakan aksi damai

MC membawakan aksi damai

Peserta Akhwat Pawai Damai

Peserta Akhwat Pawai Damai
Peserta ikhwan melakukan pawai damai

Peserta ikhwan melakukan pawai damai
Rizqi Awal, Ketua LDK DKM Unpad

Rizqi Awal, Ketua LDK DKM Unpad
Rudi harjo,SPt (Ketua HTI DPC Jatinangor)

Rudi harjo,SPt (Ketua HTI DPC Jatinangor)
Torehan Tanda tangan

Torehan Tanda tangan