Oleh FIRDAUS BIN MUSA
Dulu aku aku tidak begitu
ambil pusing sebuah nama yang namanya symbol, sebab symbol hanyalah sebuah
lambang yang tidak menjadi bahan pertanyaan diakhirat terhadap muslim, itu
anggapanku sebelumnya, namun ternyata symbol itulah yang menjadi titik tolak
perjuanganku sekarang. Tak tahu kenapa tiba-tiba saja aku ingin menegakkan
sebuah symbol yang namanya bendera
al-liwa’ dan ar-royaa’, sebelum saya jelaskan apa itu alliwa’ dan apa itu
ar-raya’ terlebih dahulu saya mengangkat wacana tentang sebuah symbol yang sekarang
sudah tidak lagi dipahami oleh seorang muslim sebagai identitas terpenting.
Jilbab dan pakaian menutup
aurat, kata-kata jilbab dan pakaian menutup aurat sengaja saya penggal lantaran
masyarakat Indonesia masih memahami
bahwa jilbab itu sesuatu yang ganya penutup kepala saja, bukan penutup aurat
secara keseluruhan. Ya itulah pembahasan pertama yang akan saya angkat, sebagai
seorang muslim dan muslimah, kita harus memahami jilbab sebagai identitas
muslimah, dengan memakai jilbab terlihatlah bahwa mereka pantas disebut
muslimah, tahu kenapa sebab yang berani memakai jilbab hanya muslimah yang
punya ketundukan luar biasa yang mampu, ada pertanyaan bahwa orang munafik dan
kafirpun banyak kok yang memakai jilbab, kenapa mereka tidak punya ketundukan
kepada allah buktinya mereka masih tetap dalam agama dan kemunafikan mereka,
tunggu dulu !
Tahukah anda, nahwa muslimah
yang memakai jibab dengan penuh ketundukan sangat jauh berbeda dengan orang
yang tidak didasari ketundukan, pertama orang yang tidak punya ketundukan ia
hanya memakai jilbab jika takut dilihat orang sebagai perempuan yang punya
cacat dikepalanya, kedua ia memakai jilbab untuk menghindari celaan dari
manusia saja, ketiga ia hanya memakai jilbab hanya sekedar trend, ke empat ia akan memakai jilbab dengan gaya dan harga
yang sangat mahal karena dalam pikirannya, bagaimana ia dianggap sempurna
dimata orang lain (mengharap sanjungan ahar dianggap sudah cantik sholehah
lagi), keenam ia memakai jilbab hanya dalam waktu2 tertentu saja (ketika akan
masuk mesjid, hari raya, atau ketika banyak kutu dikepalanya ) dan masih banyak
lagi kekeliruan wanita muslim yang tujuan mereka memakai jilbab, berbeda dengan
muslimah atau wanita sholehah ia memakai jilbab pertama, didasari karena ini
perintah allah swt, bukan karena perintah atasan, atau institusi, dia akan
memelihara identitas jilbabnya dengan prilaku kesehariannya, sebab dalam
pandangan saya secara pribadi wanita sholehah jilbabnya itu menjadi pengontrol buat dia untuk
berprilaku, meskipun tidak bisa dihubung-hubungkan, Karena akhlak baik
dipengaruhi oleh keyakinan, dan pemikirannya bila pemikiran dan keyakinan itu
islami maka otomatis akhlakpun islami, tapi sebaliknya keyakinan sudah islami
namun pemikiran dipengaruhi oleh pemikiran tidak islami (komunis, dan
sekuleris) niscaya akhlaknyapun tidak akan islamis.
Contoh lain, seorang mahasiswa
akan merasa bangga memakai lambang sekolah tertentu (unand, unp, itb, iu, dan
lain-lain), akan tetapi mereka merasa minder dengan lambang IAIN, STAIN, Madrasah
Aliyyah, tsanawiyah, dan MIN, hal ini kalau saya ambil analisa berdasarkan
analisa jilbab tadi juga bisa dikaitkan, dimana rasa minder terhadap symbol ini
akibat kesekuleren mahasiswa, yang tidak lagi percaya bahwa allah telah
menentukan dimana kita akan bekerja dan jadi apa setelah ini, sebab ia merasa
dengan sekolah atau kuliah diperguruan ahama hanya akan menambah angka
pengangguran, padahal buktinya malah yang sekolah non agamalah yang telah
mendominasi dalam hal pengangguran,
karena imeg masyarakat sudah menganggap sekolah agama banyak yang
menganggur akhirnya ya itulah cat yang
didapat disekolah agama sampai sekarang, dan tugas mahasiswalah untuk
mengembalikan imeg tersebut balik sebagai mana idealnya dan muali sekarang coba mulai beranjal
berfikir bahwa saya sekolah dan kuliah di sekolah atau perguruan tinggi agama tidak
lagi sekedar pelarian setelah tidak diterima disekolah umum (sebenarnya memisahkan sebutan sekolah umum dan sekolah
agama itu juga ungkapan sekuler)
Saya mengajak mahasiswa
islam (kuliah dan mendalami ilmu
keislaman di perguruan tinggi islam) seperti imeg masyarakat minangkabau
terhadap sebutan Honda pada setiap motor, padahal kata Honda itu adalah produk
sebuah perusahaan sepeda motor, caranya adalah istiqamah kita dengan identitas
kita disaat kapanpun, dan dimanapun? Berjilbab dimanapun dan kapanpun, mencari
nafkah dengan penuh kejujuran yang halalan thoyiibah, tidak menjual agama demi
sebuah tahta dan harta, tidak pacaran (karena islam ada aturan system
pergaulan), tdak korupsi, kolusi, dan nepotisme, tidak ikut dalam kegiatan
riba, tidak menghalalkan cara unyuk memperoleh sesuatu, tidak membicarakan aib
orang lain, tidak mendukung demokrasi, tidak meniombongkan diri pada sesame manusia lebih-lebih
pada allah swt, sholatnya tidak pernah tinggal, dakwah penyuaraan syari’ah dan
khilafahnya selalu aktif, infaknya bukan karena ada yang berlebih dari sisa
belanja atau memberikan pakaian yang kita anggap hanya layak dipakai buat orang
miskin, dan lain-lain.
Berbicara symbol ar-roya dan
al-liwa’ adalah sebuah symbol bendera islam disaat peperangan dan damai Tahukah Bahwa Islam Memiliki Bendera Sendiri ?
Apakah anda tahu bahwa Islam memiliki bendera
yang khas? Ya, Islam merupakan dien yang lengkap yang mengatur segala aspek
hidup salah satunya dalam masalah tata negara, termasuk pengaturan bendera.
Bendera Islam telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Bendera Rasulullah terdiri dari:
1. Al-liwa (bendera putih)
2. Ar-rayah (panji hitam)
Di dalam bahasa Arab, bendera dinamai dengan liwa (jamaknya adalah
alwiyah). Sedangkan panji-panji perang dinamakan dengan rayah. Disebut juga
dengan al-‘alam (1). Rayah adalah panji-panji yang diserahkan kepada pemimpin
peperangan, dimana seluruh pasukan berperang di bawah naungannya. Sedangkan
liwa adalah bendera yang menunjukan posisi pemimpin pasukan, dan ia akan dibawa
mengikuti posisi pemimpin pasukan.
Liwa adalah al-‘alam (bendera) yang berukuran besar. Jadi, liwa
adalah bendera Negara. Sedangkan rayah berbeda dengan al-‘alam. Rayah adalah
bendera yang berukuran lebih kecil, yang diserahkan oleh khalifah atau wakilnya
kepada pemimpin perang, serta komandan-komandan pasukan Islam lainnya. Rayah
merupakan tanda yang menunjukan bahwa orang yang membawanya adalah pemimpin
perang (2). Liwa, (bendera negara) berwarna
putih, sedangkan rayah (panji-panji perang) berwarna hitam. Banyak riwayat
(hadist) warna liwa dan rayah, diantaranya : Rayahnya (panji peperangan) Rasul SAW berwarna hitam,
sedang benderanya (liwa-nya) berwarna putih (HR. Thabrani, Hakim, dan Ibnu
Majah) Meskipun terdapat juga
hadist-hadist lain yang menggambarkan warna-warna lain untuk liwa (bendera) dan
rayah (panji-panji perang), akan tetapi sebagian besar ahli hadits meriwayatkan
warna liwa dengan warna putih, dan rayah dengan warna hitam. Tidak terdapat keterangan (teks nash) yang menjelaskan
ukuran bendera dan panji-panji Islam di masa Rasulullah SAW, tetapi terdapat
keterangan tentang bentuknya, yaitu persegi empat. Panji Rasulullah saw berwarna hitam, berbentuk segi
empat dan terbuat dari kain wol (HR. Tirmidzi)
Al-Kittani (3) mengetengahkan sebuah hadist yang menyebutkan : Rasulullah saw telah menyerahkan kepada Ali sebuah
panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta.
Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji
perang) terdapat tulisan Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Pada liwa
yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah
yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih. Hal ini dijelaskan oleh
Al-Kittani (4), yang berkata bahwa hadist-hadist tersebut (yang menjelaskan
tentang tulisan pada liwa dan rayah) terdapat di dalam Musnad Imam Ahmad dan
Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas. Imam Thabrani meriwayatkannya melalui jalur
Buraidah al-Aslami, sedangkan Ibnu ‘Adi melalui jalur Abu Hurairah.
Begitu juga Hadist-hadist yang menunjukan adanya lafadz Laa illaaha
illa Allah, Muhammad Rasulullah , pada bendera dan panji-panji perang, terdapat
pada kitab Fathul Bari (5). Berdasarkan paparan tersebut
diatas, bendera Islam (liwa) di masa Rasulullah saw adalah berwarna putih,
berbentuk segi empat dan di dalamnya terdapat tulisan Laa illaaha illa Allah,
Muhammad Rasulullah dengan warna hitam. Dan panji-panji perang (rayah) di masa
Rasulullah saw berwarna dasar hitam, berbentuk persegi empat, dengan tulisan di
dalamnya Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah berwarna putih. Bendera inilah yang akan membebaskan negeri negeri
Islam dari penjajahan AS di Iraq, Afgahanistan, dll serta penjajahan Zionis
Yahudi di Palestina. Akan mempersatukan Ummat dalam Negara Khilafah dan
membebaskan mesjidil Aqsha, dan akan menjadi bendera Negara Khilafah yang di
Janjikan oleh Rasulullah, Insya Allah
0 komentar:
Posting Komentar