1/06/2012
DEMO SIA-SIAKAH?
Sia-sia! Untuk apa kita demonstrasi menentang Obama, tidak akan ada
hasilnya. Obama tetap datang. Sebagian orang ada yang berkomentar seperti itu
saat melihat Hizbut Tahrir bersama umat yang lainnya melakukan unjuk rasa
menentang kedatangan Obama ke Bali baru-baru ini
Memang, kita tidak bisa menumbangkan Amerika Serikat dengan
demonstrasi. Unjuk rasa atau demonstrasi tujuannya memang bukan untuk
mengalahkan Amerika. Unjuk rasa yang sering dilakukan oleh Hizbut Tahrir adalah
dalam rangka membangun kesadaran politik umat. Kesadaran umat amatlah penting.
Umat, misalnya, harus menyadari bahwa banyak kebijakan penguasa saat ini yang
bertentangan dengan syariah Islam, zalim dan membahayakan umat; seperti
menaikkan BBM, membiarkan skandal Bank Century berlarut-larut, tidak
sungguh-sungguh mengatasi korupsi, membiarkan terjadinya disintegrasi Timor Timur
dan sekarang Papua, termasuk menerima Obama. Umat harus menyadari bahwa pangkal
dari semua kebijakan itu adalah karena negara ini menggunakan sistem
Kapitalisme dalam segala aspek. Kalau umat tidak menyadari bahwa Kapitalisme
adalah pangkal persoalannya, maka sampai kapanpun mereka akan memegang teguh
ideologi rusak ini.
Demonstrasi atau unjuk rasa yang dilakukan Hizbut Tahrir juga dalam
rangka kasyf al-khuththat (membongkar konspirasi)
negara-negara imperialis seperti Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Dunia
Islam; juga menjelaskan pengkhianatan para penguasa negeri-negeri Islam yang
berkerjasama dengan penjajah ini. Umat harus memiliki sikap yang jelas dan
mengetahui mana musuh mana kawan. Kalau musuh dianggap kawan tentu sangat
berbahaya. Amerika adalah negara yang memusuhi umat Islam, negara ini termasuk
dalam kategori muharib[an] fi’l[an], yakni negara kafir yang
memerangi dan membunuhi umat Islam di berbagai tempat seperti di Irak,
Afganistan dan Pakistan. Negara ini juga merupakan otak berbagai makar dan
disintegrasi berbagai negeri Islam seperti Sudan dan Timor Timur. Saat ini
Papua juga dalam pra-kondisi untuk dilepaskan dari Indonesia.
Karena itu sikap terhadap negara ini harus jelas. Dalam Islam status hubungan
denganmuharib[an] fi’l[an] adalah perang, bukan perdamaian atau
diplomasi.
Kita juga menjelaskan bagaimana solusi dari semua persoalan dan
penderitaan ini. Pilihannya tidak lain kecuali kembali pada Islam dengan
menerapkan seluruh syariah Islam. Untuk itu, mutlak dibutuhkan adanya negara
Khilafah yang merupakan institusi formal negara yang akan menerapkan syariah
Islam. Tanpa ada Khilafah, penerapan syariah Islam secara menyeluruh hanya akan
menjadi omong kosong belaka.
Walhasil dari aktivitas ini di tengah-tengah umat akan muncul
kesadaran: Pertama, yang menjadi pangkal dari persoalan mereka
adalah Kapitalisme. Kedua, yang menjadi pelaku dari sistem
Kapitalisme ini adalah negara-negara imperialis yang bekerjasama dengan para
penguasa negeri Islam yang berkhianat. Ketiga, solusi dari semua
persoalan ini adalah Islam. Caranya dengan menerapkan syariah Islam oleh negara
Khilafah Islam.
Dari kesadaran ini, umat akan mencampakkan sistem Kapitalisme; umat
juga tidak akan percaya lagi kepada negara imperialis dan penguasa pengkhianat
yang menjadi boneka mereka; umat pun akan merindukan syariah Islam dan Khilafah
yang merupakan solusi. Dengan kesadaran ini umat akan menuntut perubahan dan
bergerak ke arah yang benar, yaitu tegaknya syariah Islam dan Khilafah. Sebab,
hanya dengan tegaknya Khilafah yang menerapkan syariah Islam secara
menyeluruhlah persoalan umat ini akan diselesaikan.
Dalam konteks ini, demonstrasi atau unjuk rasa sebagai salah
satu uslub (cara) membangun kesadaran umat menjadi sangat
penting. Sebab, umat tidak akan berubah tanpa muncul kesadaran. Kesadaran tidak
akan muncul tanpa ada yang bicara, tanpa ada yang menyampaikan perkara
yang haq. Kita paham bahwa syariah Islam wajib diterapkan secara
menyeluruh dan Khilafah wajib ditegakkan untuk bisa menerapkan syariah Islam,
karena ada yang bicara, ada yang menyampaikan.
Menyampaikan atau berbicara tentang kewajiban ini adalah
perkara yang mulia dalam Islam. Sebab, yang kita sampaikan adalah kewajiban
yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah. Allah SWT pun
menyatakan betapa mulianya aktivitas dakwah (Lihat: QS Fushshilat []:33).
Itu pula yang dilakukan Rasulullah saw. Beliau tidak pernah
berhenti bicara, berdakwah, menyampaikan kebenaran kepada umat. Bayangkan kalau
Rasulullah saw. hanya diam membisu, umat tidak akan pernah berubah.
Rasulullah saw. juga mengkritik sistem jahiliah saat itu seperti
tradisi menyembah berhala, riba, curang dalam perniagaan, hingga membunuh anak
perempuan. Rasulullah saw. juga membongkar pengkhianatan para penguasa
jahiliah yang korup saat itu seperti Abu Jahal dan Abu Lahab. Rasulullah
saw. juga menjelaskan kepada umat Islam sebagai solusi. Kesadaran inilah yang
mendorong umat untuk menegakkan Daulah Islam di Madinah dengan dukungan ahlul
quwwah (elit berpengaruh) yang telah memberikan nushrah(pertolongan
lewat kekuasaannya)-nya kepada Rosulullah saw. dan para sahabatnya.
Dalam konteks ini Hizbut Tahrir bersama ormas-ormas Islam lainnya,
sebelum Obama datang, mengadakan temu tokoh nasional dalam Halaqoh Islam dan
Peradaban (HIP) edisi khusus pada Kamis (10/11) dengan tema, “Membongkar
Agenda Jahat dibalik Kunjungan Obama.” Tampak hadir tokoh-tokoh nasional
yang menyampaikan sikap penolakannya terhadap Obama, Kapitalisme dan
imperialisme. Di antaranya adalah KH Ahmad Zainuddin Qh (ulama), KH Ahmad Nazri
Adlani (Ketua Umum Al-Ittihadiyah), KH Djauhari Syamsuddin (Ketua Umum SI),
Fakhurrazi (Wasekjen Kahmi), Irena Handono (Kristolog), Tyasno Sudarto (mantan
Kepala Staf Angkatan Darat), Marwan Batubara (mantan anggota DPD RI), Azam Khan
(advokat) dan Son Hadi (Jubir JAT).
Memang, secara langsung pertemuan tidak akan menumbangkan Amerika.
Namun, pertemuan ini harus dilihat dalam rangka membangun kesadaran umat untuk
menegakkan syariah dan Khilafah. Sebab, hanya dengan Khilafahlah Amerika akan
bisa dibungkam. Dengan pertemuan ini, kita juga menunjukkan bahwa masih ada
umat Islam Indonesia yang tidak rela dan tidak ridho menerima Obama sebagai
pemimpin negara imperialis. Agar Amerika tahu bahwa umat Islam Indonesia
bukanlah orang-orang lemah, bukan manusia yang menuruti apapun kehendak
Amerika, yang mau melayani kepentingan jahat Amerika Serikat. Agar Amerika
tahu, masih ada umat Islam yang menolak kemungkaran yang dibawa Obama.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan kepada saudara-saudara seiman
kita yang menderita akibat kejahatan Amerika—di Irak, Afganistan, Pakistan
dan Palestina—bahwa umat Islam Indonesia tidak rela mereka disakiti. Kita
tidak rela menerima penguasa negara zolim yang menyakiti mereka. Bukankah
Rasulullah saw. mengingatkan kita untuk mencegah kemungkaran? Kalau bicara saja
tidak kita lakukan, lalu apa yang menunjukkan bahwa kita tidak setuju dengan
kemungkaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat? [al-khilafah.org]
Diposting oleh
FIRDAUS BIN MUSA
di
20.26
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar