3/06/2016
TERPILIHNYA NON MUSLIM, DEMOKRASI MEMBERI PELUANG
Oleh : Firdaus Bin Musa
Beberapa muslim yang masih punya ghirah islam kini telah resah, resah
jika indonesia di pimpin oleh non muslim, Kerisauan ini nampak dari
pusat ibu kota (Jakarta), Ahok yang merupakan Kristen Tulen menjadi
sasaran yang musti dikalahkan dalam pilkada Pemilihan Gubernur, sebab ia
menjadi aicon bakal dikuasainya indonesia oleh non muslim, maka
indonesia akan menjadi bagian dari negara china (kapitalis timur), semua
yang berlaku di china akan berlaku di indonesia, indonesia lengkap
sudah menjadi sampah buangan produk2 china, begitu pendapat sebagian
mereka,apakah Kita tidak menyadari kaum muslimin bahwa kita memang tidak
boleh memilih non muslim, Bagi saya selama sistem negara masih
demokrasi muslim atau non muslim sama2 saja rasanya di pimpin non
muslim, Kita mungkin tidak mau dipimpin non muslim, namun lebih baik
lagi jika tidak memakai sistem demokrasi, sebab melalui sistem inilah
yang memberi ruang non muslim mengacak-acak umat islam dan ajaran islam.
sampai kapan cara berfikir rendah ini kita pakai (pemimpin ndak mau non
muslim, tapi aturannya masih aturan non islam)
Diposting oleh
FIRDAUS BIN MUSA
di
22.21
0
komentar
GEMPA SUMBAR DATANG LAGI
Oleh : Firdaus Bin Musa
Kebanyakan masyarakat kota padang tidak begitu merasakan gempa,
namun karena infonya sudah keburu sampai kemedia nasional yang langsung
dikirim oleh BMKG Akhirnya kepanikan makin memperburuk keadaan
masyarakat, yang tadinya tidak terasa, ikut lari2an terutama masyarakat
dan mahasiswa yang tidak pernah merasakan gempa sebelumnya, merekapun
menjadi bulan2an media, akhirnya mereka mengungsi dengan ketakutan yang
tidak wajar, Tidak usah terlalu cemas, sesungguhnya kecemasanlah yang
membuat kita makin panikSudah lama tidak terasa gempa tiba2
tv one dengan sembrono menampilkan gempa dengan kekuatan 8,3, padahal
gempa tsb berukuran 7,8, dan narasinya dibuat orang bagaimana panik,
padahal pengalaman membuktikan kepanikan masyarakatlah yang seringkali
menambah korban, sesuatu yang ditakutkan belum terjadi namun korban
sudah ada, sebab di issuekan dengan narasi2 menakutkan.
Bisa jadi Gempa Allah dtangkan agar kita segera tegakkan daulah
khilafah, Sebab bicara khilafah, bicara penerapan islam secara
menyeluruh semua maksiat dihabisi dan dimusnahkan.
Ingatlah wahai kaum muslimin, sekalipun Keilmuan manusia mengatakan bahwa kewaspadaan terhadap tsunami telah dicabut, Bukankah Allah swt jauh2 hari telah mengingatkan dalam Firmannya
”Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib (yang akan terjadi / yang belum terjadi); tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS Al-An’am 59)
Diposting oleh
FIRDAUS BIN MUSA
di
22.17
0
komentar
MENCELA DEMOKRASI " TAPI " HIDUP DLM SYSTEM DEMOKRASI..
Oleh : Abu Hazim At-Tahriri
Assalamualaikum , Lagi-lagi saya di cemooh di WassApp saya bahwa saya AdiRevolter
munafik. Ah hebat sekali mulutmu itu. Saya katakan padamu, saya
memberikan sedikit ultimatum padamu. Bahwa anda tidak punya hak melarang
saya di lahirkan dimana saja, termaksud di indonesia itu urusan
Tuhanku. Anda berani menantang ketentuan Allah swt? Anda berani
mengatakan Tuhanku Allah munafik!?
Ketika saya di lahirkan dinegri ini " Yang kebetulan ketika saya lahir dalam system demokrasi sudah ada di negri ini " lalu kenapa anda menjustice saya munafik..? Inikan ngawur..
Ketika Rasulullah saw dan sahabat nabi terlahir di zaman Jahiliyah, hidup, makan, berdagang, menikah, berdakwah dan meruntuhkan kesesatan berhala-berhala . Apakah anda berani mengatakan Rasulullah saw dan sahabatnya adalah sosok munafik..?
Mencela demokrasi, dan hidup dalam negri demokrasi dan mengubahnya menjadi Negara ber system islam, kenapa anda menyebutnya munafik? Apa ngak kebalik?
Anda tau apa itu " M.U.N.A.F.I.K ? "
Ketika saya di lahirkan dinegri ini " Yang kebetulan ketika saya lahir dalam system demokrasi sudah ada di negri ini " lalu kenapa anda menjustice saya munafik..? Inikan ngawur..
Ketika Rasulullah saw dan sahabat nabi terlahir di zaman Jahiliyah, hidup, makan, berdagang, menikah, berdakwah dan meruntuhkan kesesatan berhala-berhala
Mencela demokrasi, dan hidup dalam negri demokrasi dan mengubahnya menjadi Negara ber system islam, kenapa anda menyebutnya munafik? Apa ngak kebalik?
Anda tau apa itu " M.U.N.A.F.I.K ? "
Begini, anda boleh bertanya atau berguru sama Ustadz Wikipedia.
Munifiq atau Munafik kata benda, dari bahasa Arab " munafiqun"
" Terminologi dalam Islam untuk merujuk pada mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama Islam, namun sebenarnya hati mereka memungkirinya..
Jika anda kurang yakin anda boleh baca kembali Al-Quranmu, kalau ngak bisa ngaji, Silahkan baca saja artinya ini :
"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti. (Surah Al-Munafiqun 63:1-3)
Pertanyaan saya, siapa yang munafik disini? Saya yang menolak demokrasi dan menginginkan syariah islam? Atau Anda yang menyembah dan menikmati demokrasi dan menolak dan menghalangi tegaknya syaria islam?
" Mikir... !"
O ya, anda juga mengatakan pada saya, saya maklumi jika anda gagal paham dalam hal ini. Anda berkata:
" Ngak perlu anda koar-koar saja, kerja nyata di DPR sana, Merubah system dari dalam.."
Begitukah..? Sekarang saya tanya, sudah berapa puluh tahun partai anda duduk di DPR sana? Apakah Khilafah dan syariah tegak? Apakah anda betul-betul meneriakan syariah islam di DPR sana? Anda jangan dusta sama saya. Itu munafik namanya..
Kita tengok rintihan Rasulullah saw kepada keluarga yasir 1400 Tahun silam yang teriakannya masih terdengar sampai saat ini.
Rasulullah Saw berkata pada keluarga yasir..
“Ishbir yaa aala Yassir.... Bersabarlah wahai keluarga Yassir, sesungguhnya istana kembali kalian di surga yang di bawahnya sungai mengalir.."
Hanya rintihan itu yang bisa Rasulullah berikan pada keluarga Yassir walau mereka disiksa, terpanggang di atas pasir. Tapi, mari kita merenung sejenak dan bertanya…
Keluarga Yassir-lah yang paling pantas berkata dari pada perkataan anda itu..
“ Yaa Rasulullah, mengapa kamu hanya koar-koar dan berdoa, masuklah ke dalam Darun Nadwah ( DPR ) lalu ubahlah peraturan di sana!”
“Yaa Rasulullah, mengapa kamu menolak kekuasaan dari mereka? Tidak malu kah engkau kita dipimpin oleh mereka?”
Pernahkah mereka berkata seperti itu, Seperti yang anda komat-kamit seperti dukun baca mantra yang ngak mutuis itu...?
Ah, lisan mereka terlalu mulia utk itu. Tapi diamkah Rasulullah pada saat itu?
Anda juga dengan sangat arogan berkata " cari dukungan Ahlu nusroh kok sama partai-partai demokrasi, penguasa demokrasi, pejabat demokrasi, tentara demokrasi, polisi demokrasi. Dasar pejuang khilafah Taqi.."
Oh, sebentar dulu. Rasulullah melobi sana-sini ( Meminta Dukungan Ahlu Nusrah ) tapi jarang orang tahu, salah satunya ke Thaif yang musyrik yang akhirnya disambit batu.
Tapi syukurlah ada Muth'im bin Adiy memberikan perlindungan kepada Rasulullah. Padahal Muth'im bin Adiy adalah Musyrik Penyembah berhala.
Apakah anda berani berkata kepada Rasulullah saw di akherat nanti " kalau ketemu ya " berkata :
Wahai Rasulullah, mengapa kau mencari dukungan orang-orang mysrik dan kafir, dasar munafik loh..!! Anda berani berkata demikian? " Laknat namanya.."
Rasulullah saw mencari dukungan kepada mereka bukan sembarang nafsu jabatan dan kekuasaan, Rasulullah meyakinkan kepada mereka untuk men Tauhidkan Allah dan mengimani dirinya sebagai utusan Allah. Dengan harapan islamnya mereka itu bisa menjaga dan melindungi dakwah Rasulullah saw.
Anda berani berkata demikian " mencela kekafiran tapi menikmati kekafiran” Padahal Rasulullah pernah lakukan cara dakwah demikian...
Ini baru soal perlindungan, anda belum membahas alih kekuasaan. “Thalabun Nushrah” Rasulullah contohkan. Namun anda mencela saya dengan sebutan “Mengemis Kekuasaan”
Yang mengemis kekuasaan itu sebenar siapa? Anda yang menipu umat islam saat kampanye Pemilu, setelah itu anda koalisu dengan partai-partai non muslim, partai nasionalis, partai sekuler untuk mendukung posisi anda di pemerintahan sampai rela mengeluarkan uang ratusan juta, bahkan miliaran?
Kalau anda mengatakan saya atau sahabat-sahabat
Saya atau kami mengunakan methode thalabun nusrah itu semata-mata dakwah yang di contohkan Rasulullah saw. Dan kami punya dalil dan pendapat imam ahli tafsir tentang ini. Dan fungsi thalabun nusrah yang kami lakukan untuk mengajak penguasa-pengua
Rasulullah pun bersabda:
“Sesungguhnya agama Allah ini tidak akan pernah Dia tolong, kecuali melalui orang yang menguasainya dari seluruh aspek..”
Seolah antithesa dari :
“ Syariah Islam hanya bisa tegak dengan Kekuasaan yang saya sebut Khilafah "
Dan ini sejalan perkataan Hujatul Islam Imam Al-Ghozali :
" Mengibaratkan agama dan sultan sebagai dua anak kembar, agama adalah pondasi, sultan adalah penjaganya, sesuatu yang tanpa pondasi akan mudah runtuh, dan sesuatu tanpa penjaga akan hilang. Keberadaan sultan merupakan keharusan bagi ketertiban dunia, ketertiban dunia merupakan keharusan bagi ketertiban agama, dan ketertiban agama merupakan keharusan bagi tercapainya kesejahteraan akhirat. Dengan demikian terdapat ikatan erat antara dunia dan agama bagi tegaknya wibawa dan kedaulatan negara melalui kepala negara yang ditaati dan yang mampu melindungi kepentingan rakyat, baik duniawi maupun ukhrawi..
Bahwa mengangkat seorang pemimpin negara (khalifah) tidak berdasarkan rasio, melainkan wajib syar’i karena tugas utama khalifah adalah dalam rangka memelihara syariat. Bertolak dari dasar pemikirannya ia mengatakan bahwa dunia adalah ladang untuk mengumpulkan perbekalan bagi kehidupan di akhirat, dunia merupakan wahana untuk mencari ridha Tuhan, sedangkan pemanfaatan dunia untuk tujuan ukhrawi hanya mungkin kalau terdapat ketertiban, keamanan dan kesejahteraan yang merata di dunia...
Tujuan manusia dalam bermasyarakat dan bernegara tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan material dan duniawi yang tidak mungkin ia penuhi sendirian, tetapi lebih dari itu untuk mempersiapkan diri bagi kehidupan yang sejahtera di akhirat. Dan hal itu baru mungkin dalam suasana dunia yang tertib, aman dan tentram, dan untuk menciptakan dunia yang demikian yang diperlukan adalah kepala negara yang ditaati..."
Beliaupun berkata :
" Para ulama yang bersikap masa bodoh terhadap keadaan sehingga menimbulkan kedzaliman para penguasa. Lisan mereka telah terikat oleh ambisi-ambisi duniawi, sehingga mereka membisu dan jika mereka berkata, perkataan mereka tidak didukung oleh tingkah laku, sehingga dakwahnya tidak berhasil.." ( Busthami Muhammad Said, Mafhũm Tajdid al-Din, terjemahan Mahsun Ali Mundzir, Trimurti, Gontor, Ponorogo, 1992, hlm. 54,55 ) Pertanyaan saya, siapakah yang pantas di beri gelar Munafik? Anda orang Islam tapi nolak syariah islam?
Atau.. Orang Islam tapi nolak system demokrasi?
Edisi Mikir Mbloo...
Diposting oleh
FIRDAUS BIN MUSA
di
22.11
0
komentar
FAKTA YANG TAK BOLEH KITA DIAMKAN'
Oleh : Firdaus Bin Musa
Metro TV mati2an mengkampanyekan
gubernur sekarang agar tetap terpilih menjadi gubernur jakarta, padahal
dibaliknya naiknya Dia, akan menjadi cikal bakal memudahkan orang2 kaya
(Konglomerat / Kapitalisme timur) untuk mengambil tanah negara sebagai
tempat bisnis (membangun tempat usaha atau perumahan Elit) serta
menguasai penuh kebijakan negara , Apa bentuk pembelaan Metro TV ke
Ahok, dengan mengangkat issue sampah bahwa Kulit kabel yang ada di GOT
Istana sebuah kesengajaan dari orang yang tidak senang terhadap Ahok,
padahal dibalik pernyataan itu bisa dibalikkan narasinya, sesungguhnya
sampah itu kesengajaan yg dibuat oleh orang yang pro ke ahok, agar ahok
tetap eksis dalam pemberitaan.
Disisi lain ada wacana akan
ada pengampunan pajak terhadap pengusaha2 biar mereka yg tadinya
berhutang banyak (dalam hal ini pajak) akan memperbaharui datanya dari
awal, tidakkah kita paham sesungguhnya ide ini banyak diterima oleh
elit2 yang ada diatas (pejabat) sebab mereka kebanyakan adalah
pengusaha2, bisa jadi perusahaan mereka termasuk golongan yang menunggak
pajaknya, dengan diberlakukannya pengampunan pajak, maka akan menguntungkan bagi mereka.
Sementara saat ini ummat islam masih takut2 meneriakkan islam sebagai
solusi, sedang mereka yang berkuasa terang2an memperlihatkan
permusuhannya dengan beraninya membuat pernyataan nyeleneh, Biar Kafir
asal tidak korupsi, LGBT itu musti mendapat tempat sebab itu melanggar
HAM, dll, Secara tidak langsung mereka telah berani unjuk gigi
sesungguhnya ummat islam ini tidur pulas, bahasa lainnya " Pengecut /
mudah di sogok dengan kekuasaan " dan itu semua diatas buah dari
kedangkalan pemahaman islam, disebabkan ummat tidak di didik dengan
islam dari dini, lantaran kurikulum dan negara tidak memberi tempat
dalam pengajaran islam secara continiu, malah yang terjadi adalah
generasi islam di didik agar lebih memilih pendidikan yang bisa menjadi
mesin pencetak uang, jadi wajar saja generasi muda islam hari ini
HEDONISME...
Diposting oleh
FIRDAUS BIN MUSA
di
22.08
0
komentar
SUDAH TAHUKAH MANA KEWAJIBAN NEGARA PADA KITA?
Sepengetahuan saya, bicara rakyat negara khilafah mereka tidak boleh di intimidasi dan dibeda-bedakan,
Saat ini ketika saya orang sumatera barat pergi kewilayah lain sebut
saja misalnya Jakarta maka tidak akan mendapat tempat dan pelayanan yang
sama sebagaimana layaknya disumatera barat, alasannya bukan warga asli
jakarta, Padahal bicara pelayanan dalam negara islam dimanapun kita
berada, sama pelayanan yang musti ia dapatkan, misal kalau gratis
disumbar tentunya ditempat lain juga demikian atau sebaliknya, bukankah
masih negara indonesia? tapi karena sistem demokrasi yang dipakai, tidak
jelas akhirnya antara provinsi satu dengan yang lain seolah saling
berlawanan dalam memberi pelayanan, belum lagi soal harga jika di daerah
ini mahal kenapa tempat lain murah, jika dilihat dari kacamata politik
islam, betapa peran negara minim sekali bahkan bisa dikatakan tidak ada,
sebab kewajiban negara kini dipikul oleh rakyatnya juga, sebut saja
kesehatan lahir BPJS, Pendidikan yang bagus hanya di dapat jika memiliki
banyak uang. masih banyak fakta lain yang bisa kita lihat sesungguhnya
NEGARA Berlepas Tangan dalam mengayomi rakyatnya, tapi pajak tetap
dipungut, kalau perlu dikuras habis penghasilan rakyat, terutama rakyat
jelata
Sepengetahuan saya, bicara rakyat negara khilafah mereka tidak boleh di intimidasi dan dibeda-bedakan,
Diposting oleh
FIRDAUS BIN MUSA
di
22.07
0
komentar
JALAN-JALAN SEKITAR BUKIK TINGGI (LUBANG JAPANG)
Diposting oleh
FIRDAUS BIN MUSA
di
22.03
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)



















