8/07/2010

Ada Hantu di Jembatan

Parman tinggal di sebuah desa tapi kerja di sebuah kota. Pulang balik dari desa ke kota adalah kerjanya empat hari seminggu. Di kota, kerjanya beragam , mulai dari tukang sampah, tukang angkat atau kuli panggul, sampai tukang becak dan tukang pacul. Sesekali juga tukang cukur rambut. Dia merasa hidupnya itu sebenarnya lebih kepada enak daripada tidak, condong ke bahagia dari menderita, makanya dia suka beli surat kabar. Di surat kabar banyak berita tentang kotanya dan kota-kota lain di daerahnya, berita nasional sampai berita internasional. Kebiasaannya ini ditekuni semenjak dia dikasih selembar kertas koran oleh seorang berpakaian compang camping yang misterius. Pesannya,” Bawalah lembar koran ini pulang, rebus sampai hancur dan campur dengan garam, lalu minum airnya!” Parman waktu itu tertawa. Dia hampir yakin bahwa orang yang ditemuinya itu sudah gila, tapi sewaktu dalam perjalanan pulang sore ke desa dia menyempatkan juga merebus dan meminum air koran itu di tempat kosnya. “Siapa tahu enak,” pikirnya. Pas setelah meminumnya, dia merasa energinya bertambah, semangat hidupnya jadi meningkat, dan pemandangannya mendadak cerah. Tapi, mulanya dia tidak mengalamatkan akibat-akibat positif itu sebagai efek substansi minuman, tapi sebagai efek dari perasaan enaknya minuman tersebut. Namun, sejak itu, dia punya kebiasaan baru, yakni suka membeli koran.
Penjual Koran langganannya sebenarnya agak heran mengapa langganannya itu sejak tiga tahun ini membeli Koran-korannya. Dia dari awal tahu bahwa Parman tidak bisa membaca dan bahkan tak pernah terlihat membuka-buka halaman-halaman koran dengan rasa tertarik. Koran dibeli, dilipat lalu dimasukkan ke dalam tas begitu saja. Suatu hari dia pernah bertanya pada Parman untuk menghindari prasangka buruk. Parman menjawab” Koran ini enak”. Penjual koran tertawa, tapi entah apa yang ditertawakannya Parman tak bertanya.

Di desa Parman ada sebuah jembatan. Jembatan beton. Dikasih nama oleh orang-orang desa: Jembatan Rakyat. Di jembatan itu ada seseorang rutin hampir tiap hari duduk-duduk di atasnya. Orangnya sudah tua. Dia juga dianggap sudah “kena“ oleh banyak orang. Saban sore dia sudah di sana, tak peduli hujan ataupun panas. Selama lebih kurang satu jam dia duduk-duduk sambil menyapa-nyapa orang-orang lewat, tertawa-tawa sendiri, melihat-lihat ke kali atau sekedar tidur-tiduran. Parman sering bicara dengannya. Artinya, Parman juga sering duduk-duduk di sana. Mereka bercakap-cakap tentang berbagai hal, mulai dari cuaca yang tidak bersahabat, tentang sawah, ladang, ayam, harimau, and so on and so forth. Sering juga Parman membawa minuman untuk mereka berdua, tidak lain dan tidak bukan minuman spesial air koran ramuan Parman. Orang tua itu paling senang dengan minuman Parman. Katanya sehari tidak minum minuman Parman membuat hati jadi

4/22/2010

bicara cinta pada islam

 oleh firdaus bin musa



kenapa sesuatu itu mesti antara, antara sebelum alam dunia dan sesudah dunia ada alam kandungan antara bumi dan langit ada diriku, antara kafir dan beriman ada munafik dan fasik, dan antara jahat dan baik ada kebenaran, antara halal dan haram ada subhat, antara laki-laki dan perempuan ada banci. dan antara..antara lainnya, sekali lagi kenapa musti ada antara

terkadang hati, dan akal ini jadi raja tapi terkadang nafsu juga jadi raja dalam diri kita, lalu dimana keagungan allah itu ditempatkan sebagai sang maha diraja

semestinya kita tidak hanya sekedar tahu, tapi bagaimana kita juga harus bisa berbuat

sesuatu indah tapi keindahannya tidak berarti ketika hati gelisah, dan sering kegelisahan itu diakibatkan karena kemaksiatan kita kepada-Nya, dan sebesar-besar kemaksiatan ialah kita tidak mau merubah diri dan memperjuangakn sesuatu yang akan menyebabkan kita terjerumus kepada kepada kemaksiatan yangt berlarut-larut, a...palagi kalau bukan memperjuangkan syari'at dibawah naungan khilafah

membiasakan yang sudah biasa itu tidak luar biasa, tapi mewujudkan yang belum didepan mata itu baru luar biasa seperti perjuangan menegakkan syari'ah dan khilafah, siapa yang ingin jadi orang yang luar biasa cepat naik gerbong yang yang utama

benarlah sebuah kata hatiku ini dikala yakni"sederet kata tidak mampu untuk telinga yang tersumbat dinding kuning penguasa, maka jalan lain yang musti kita tempuh, tapi mana jalan lain itu yaitu jalan taqwa (dengan memperlihatkan aksi, sambil menawarkan solusi, dan tidak bersimbahkan caci)


lamunan itu berubah firasat, firasat berubah sak wasangka, syu'zhan itu berubah jadi tahayul terus tahayul berubah menjadi penyekutuan, tapi semua itu masih belum nampak sedang yg nyata itu penyekutuan dalam pembuatan hukum, manusia membuat hukum untuk mengatur dirinya sendiri seolah ia lebih hbat pula dari tuhannya



lumut itu tumbuh menghancurkan keindahan dari kerasnya batu, ia tumbuh menjadi penyejuk mata dari jarak jauh tapi ia juga membuat daku jadi buta kebenaran mana yg musti aku salahkan apakah batu, atau lumut, yang jelas setelah ku punya islam aku tidak pernah menyalahkan makhluk-Nya, karena setiap makhluk itu ditumbuhkan... tentulah ada sesuatu yg bisa dipetik keberadaannya, apalagi makhluk itu tidak berakal sedangkan yg berakal saja ia tidak bisa berbakti pada tuhan-Nya apalagi yg tidak berakal, wahai lumut dan batu kau inspirasi bahasa lisanku

hati-hati syabab dan syabah

hati-hati para syabab dan syabah

oleh firdaus bin musa

berikut korban
ta'aruf lewat facebook BELAKANGAN ini ta’aruf mengalami
penyempitan makna. Bahkan dalam praktiknya, banyak yang
mengidentikkan ta’aruf dengan pacaran. Salah satu penyebabnya adalah
maraknya ta’aruf yang dilakukan oleh para ikhwan maupun akhwat di
dunia maya. Padahal, sejatinya...... yang mereka lakukan itu adalah pacaran
berkedok ta’aruf, karena dalam aksinya, tiada lagi hijab dalam
interaksi bagi akhwat dan ikhwan bukan mahram, seakan bebas landas,
curhat di jejaring sosial facebook, hujat-hujatan. Itulah pacaran
terselubung dengan membawa topeng ta’aruf.Ikhwan-ikhwan yang
menggunakan profil islami tak pernah kehabisan ide dalam melegalkan
pacaran. Jika orang-orang yang tidak membawa agama berani terang-terangan
mengatakan pacaran, tapi tidak dengan pemuda pemudi yang berciri
khas agama, mereka berpacaran dengan embel-embel ta’aruf.Entah
apa yang ada di benak mereka, apakah ta’aruf dipahami sesuai syariat atau
sengaja menyelewengkan dari makna yang sebenarnya, banyak ikhwan dengan
mudahnya mengatakan ingin ta’aruf dengan akhwat yang diincarnya melalui
dunia maya tanpa perantara pihak ketiga.Komentar-komentar
di jejaring sosial sudah sulit lagi dipilah, mana yang untuk umum mana yang
harusnya dijadikan rahasia dirinya dengan Allah, facebook menjadi keranjang
sampah juga menjadi diary bagi sebagian orang. Akhwat dan ikhwan
berpacaran pun sudah mulai berani membuat status in relationship dengan
pasangan yang disebutnya sedang ta’aruf. ... Komentar-komentar
di jejaring sosial sudah sulit lagi dipilah, mana yang pacaran dan
mana yang ta’aruf. Belum ada ikatan apapun mereka sudah berani
memanggil umi-abi...Tak sedikit juga ikhwan genit dan akhwat
ganjen saling memberi perhatian di tempat umum. “Sudah shalatkah ukhti?
Jangan telat makan ya..” tulis sang ikhwan. Sang akhwat pun tak mau
kalah, membalasnya dengan kata-kata senada, “Syukron ya akhi atas perhatiannya,
semangat belajar ya.”Ada pula komentar yang lebih liar, “Eh
iya ukhti kelihatan anggun dengan jilbab itu, hehehehe.” Maka si
akhwat balik menjawab, “Ah, akhi nih bisa aja, ntar ana GR nih, heeeeee…”
Masya Allah, itukah yang disebut ta’aruf?Dulu penulis banyak
menemukan pencerahan di dunia maya dengan banyak berteman, namun jadi
ilfil (ilang feeling) setelah mengetahui sepak terjang beberapa ikhwan
akhwat, teriaknya agama, tapi murah terhadap lawan jenis, menebar
simpati dan basa-basi.Mereka memakai kedok ta’aruf untuk melegalkan
pacaran. Belum ada ikatan apapun sudah berani memanggil “umi-abi”
atau “abang-adik.” Tak sedikit pula ditemui akhwat berjilbab lebar
yang masih membudidayakan pacaran. Tanpa malu-malu lagi. Apakah semua
itu dilakukan karena ketidaktahuan akhwat tentang bagaimana Islam mengatur
pergaulan dengan lawan jenis? Wallahu a’lam. Yang pasti ada juga
yang biasa berkomentar pacaran haram, tapi dirinya masih juga berpacaran,
namun memakai kedok ta’aruf. Padahal praktiknya sami mawon.
...akhwat jangan mudah terpedaya pada ikhwan di dunia maya yang belum
diketahui secara jelas identitasnya...Hendaknya benar-benar
lurus memahami kata ta’aruf seperti yang diajarkan oleh Nabi kita,
jangan sampai menjadikan ta’aruf untuk menghancurkan keagungan Islam.
Telah jelas dalam Islam, bagaimana hendaknya kita menjaga diri kita
agar tidak terjatuh pada perkara-perkara yang membuat Allah murka. Jangan
memakai istilah ta’aruf jika hanya sebatas ingin menjadi uji coba
bermain hati.Hati akhwat biasanya lembut dan mudah tersentuh, korban
yang pertama akan merasakan terluka oleh ta’aruf coba-coba tadi tentunya
para akhwat. Begitu juga para akhwat, jangan mudah terpedaya pada
ikhwan dunia maya yang belum diketahui secara jelas identitasnya. Apa
yang ditampilkan dalam dunia maya, profil, kata-kata, tidak dapat dijadikan
tolak ukur untuk menilai karakter yang sesungguhnya, juga tidak
dapat cukup untuk menggambarkan pribadinya secara utuh, tetap waspada.
[Yuli Anna Pendamba Surga/voa-islam.com]

2/21/2010

Mmahasiswa AS Ditahan karena Belajar Bahasa Arab

Mahasiswa AS Ditahan karena Belajar Bahasa Arab WASHINGTON- Seorang mahasiswa AS ditahan di bandara karena kedapatan membawa kartu-kartu bertuliskan bahasa arab. Nicholas George mahasiswa asal California yang berusia 22 tahun itu, sempat diinterogasi selama lima jam dikaitkan dengan terorisme. Ia sempat diborgol dan diperlakukan layaknya pesakitan. George melalui Organisasi pembela hak-hak sipil, American Civil Liberties Union (ACLU), kemudian mengajukan tuntutan terhadap agen FBI dan polisi. Akibat penahanan di bandara itu, George ketinggalan pesawat ke California dan terpaksa bolos kuliah. Ia juga memprotes penahanannya yang dikaitkan dengan buku yang dibawanya, yang berjudul “Rogue Nation: American Unilateralism and the Failure of Good Intentions,” karangan Clyde Prestowitz. Pemeriksaan yang dilakukan oleh staf Administrasi Keamanan Transportasi AS (TSA) menahan George dan ia merasa hal itu merupakan pelecehan berat. Selama berjam-jam ia dicecar pertanyaan seputar pandangannya mengenai peristiwa 9/11. George ditanya apakah dia tahu “siapa yang melakukan 9 / 11,” bahasa apa yang digunakan pemimpin Al Qaidah Osama bin Laden dan mengapa kartu-kartu bahasa inggris-arab itu “mencurigakan.” Ia kemudian diborgol dan ditinggalkan di sel terkunci selama dua jam sebelum dua agen FBI menginterogasinya. ACLU menambahkan bahwa klien mereka tidak pernah diberitahu tentang hak-haknya atau menjelaskan mengapa ia ditahan. George mengambil jurusan fisika sekaligus studi Timur Tengah belajar di Pomona College, California. Saat diinetrogasi, ia juga ditanyai tentang perjalanannya ke negara-negara muslim dan berbahasa Arab, termasuk Yordania di mana dia menghabiskan satu semester belajar di luar negeri, dan yang juga dicecar mengenai siapa saja yang ia temui di sana. “Sebagai orang yang bepergian dengan pesawat, saya ingin petugas bandara melakukan tugas mereka untuk menjaga penerbangan aman, tapi saya tidak mengerti bagaimana menahan dan melecehkan saya hanya karena aku membawa flashcards membuat orang lebih aman” paparnya seperti dilansifr AFP. Gugatan ini menitikberatkan pada tuduhan pelanggaran hak konstitusional untuk kebebasan berbicara dan untuk bebas dari tekanan yang tidak masuk akal. George telah belajar bahasa Arab sejak tahun pertamanya di universitas untuk dapat membaca dan memahami apa yang sedang dilaporkan dan diperdebatkan di surat kabar Timur Tengah, program televisi dan publikasi atau media lain. Dengan menggunakan kartu-kartu kecil, bertuliskan huruf arab di satu sisi dan artinya dalam bahasa inggris di sisi lain, ujar George, sangat membantunya belajar bahasa. George mengaku belajar bahasa Arab karena bahasa ini digunakan oleh puluhan juta orang di seluruh dunia dan ia menganggap tidak ada salahnya dengan itu. “Apa salahnya belajar baasa Arab,” tukasnya. Pengacara ACLU menganggap langkah ini merupakan pelecehan dan hambatan bagi para pengguna transportasi udara, buang-buang waktu dan pelanggaran Undang-Undang Dasar.” (republika.co.id, 11/2/2010

Gema Penolakan Valentine’s Day

Gema Penolakan Valentine’s Day di Jatinangor

JATINANGOR, HTI Press. Hizbut Tahrir Indonesia Kampus Unpad (HTIKU) dan LDK DKM Universitas Padjadjaran mengadakan pekan penolakan Valentine’s Day. Di mulai pada aksi damai HTIKU di depan gerbang lama kampus unpad. Aksi yang di ikuti oleh aktivis syabab HTI itu menyeru kepada mahasiswa Unpad untuk menolak Valentine day. Dalam aksi ini, orasi pertama di sampaikan oleh Adi Muchti Achdiyat menjelaskan akibat total dari kehidupan pergaulan bebas secara umum. Kemudian orasi berikutnya di sampaikan oleh Tri Kusyuhono SAK, S.Pt sebagai Direktur Opini dan Media HTIKU menyampaikan sekelumit dan seruan agar kembali ke islam. Orasi berikutnya juga di lanjutkan oleh HUMAS HTIKU, Fahrur Rozy menjelaskan tentang akibat valentine dan solusi hanya mampu ditegakan melalui islam sebagai solusinya. Kegiatan aksi di tutup dengan pernyataan sikap dari ketua HTI Kampus UNPAD,Andre Husnari.

Kemudian kegiatan bertema, “Kampanye Penanggulangan Pergaulan Bebas” yang dilakukan LDK DKM UNPAD juga merupakan kampanye penolakan terhadap Valentine’s Day. Pada acara yang digalang di kampus UNPAD-Jatinangor puluhan mahasiswa sepakat menolak Valentine’s Day dengan menorehkan dukungan berupa tanda tangan di Spanduk bertuliskan penggalangan tanda tangan tolak valentine’s Day. Kegiatan tersebut di isi pula oleh Taufik Abdul Karim (DPD 1 HTI Jabar/Direktur Khalifa Consultant) yang banyak mengetengahkan masalah pergaulan yang pernah di jumpai dan solusinya dalam islam. Kemudian kampanye dilanjutkan di Pondok Pesantren Siswa Al-Ma’soem yang dihadiri 400-an peserta, Rizqi Awal selaku ketua LDK DKM Unpad yang mengisi training pergaulan islam mengajak serta kepada peserta untuk berjanji menolak valentine’s Day. Kegiatan ini pun dilanjutkan ke SMAN 1 Jatinangor, dan lagi-lagi peserta bersepakat untuk menolak Valentine Day’s setelah memperhatikan training yang dibawakan Rizqi Awal.

Kegiatan ini, diakhiri dengan aksi damai cinta jatinangor Hizbut Tahrir Indonesia bersama Ummat. Kegiatan ini dilepas oleh Kapolsek Jatinangor dengan ditandai serah terima Ar-Royyah dari kapolsek Jatinangor kepada pimipinan Aksi. Aksi ini diisi oleh orasi-orasi oleh Hisyam Mansur,S.IP (HTI DPC Jatinangor/Presiden Komunitas Intelektual Perkotaan Jawa Barat), dilanjutkan Ust.Izzudin selaku ulama Sumedang, kemudian Rizqi Awal (Ketua LDK DKM Universitas Padjadjaran), Rahman Hakim, S.Si (Pakar Pendidikan/Staff Pengajar Pendidikan Al-Ma’soem) dan orasi diakhiri oleh Ust. Rudi Harjo, S.Pt selaku ketua HTI DPC Jatinangor. Pernyataan sikap disampaikan oleh Andre Husnari selaku ketua HTIKU dengan mengatakan bahwa solusi tuntas atas permasalahan ini hanya dapat dilakukan oleh negara dan itu hanya terwujud bila islam diterapkan sebagai aturan hidup. dan ditutup dengan Doa oleh KH Ali Bayinullah (Ulama Sumedang). Aksi ini berakhir dengan penandatanganan penolakan terhadap kehidupan pergaulan bebas oleh Kapolsek Jatinangor dan Ketua HTI DPC Jatinangor dan komponen ummat dan individu yang ikut serta dalam aksi tersebut.
MC membawakan aksi damai

MC membawakan aksi damai

Peserta Akhwat Pawai Damai

Peserta Akhwat Pawai Damai
Peserta ikhwan melakukan pawai damai

Peserta ikhwan melakukan pawai damai
Rizqi Awal, Ketua LDK DKM Unpad

Rizqi Awal, Ketua LDK DKM Unpad
Rudi harjo,SPt (Ketua HTI DPC Jatinangor)

Rudi harjo,SPt (Ketua HTI DPC Jatinangor)
Torehan Tanda tangan

Torehan Tanda tangan

7/01/2009

BIODATA SANTRI

 oleh firdaus bin musa



Madrasah Diniyyah Awwaliyah (MDA) Al-Jadid Padang Area
Jl. Sisinga Mangaraja.No. 30.Telp: 085274235223
Kel. Simp Haru. Kec. Padang Area
Kota Padang



BIODATA SANTRI

Nama Santri :
Jenis Kelamin :
Tempat/Tgl Lahir :
Anak Ke :
Sekolah Asal :
Alamat Lengkap :
Nama Orang Tua
Ayah :
Ibu :
Pendidikan Orang Tua
Ayah :
Ibu :
Pekerjaan orang tua
Ayah :
Ibu :
No Telp :
Pesan Orang Tua : ……………………………………………………
……………………………………………………
Guru,dan orang tua dua unsur Guru
Yang hendaknya saling melengkapi,
Serta saling memberikan peran yang
Besar untuk murid. Orang tua Murid

IDEALNYA SEORANG DA’I DI ERA KOMUNIKASI TEKNOLOGI

IDEALNYA SEORANG DA’I DI ERA KOMUNIKASI TEKNOLOGI



A. Latar Belakang Masalah
Jika kita tilik sejarah zaman Rasulullah saw, Rasulullah mampu mencetak kader-kader dakwah yang ulung, yang kemantapan imannya tidak diragukan oleh lawan maupun kaum muslimin itu sendiri, bahkan hal ini terwarisi kegenersi sesudahnya beberapa tahun, kalau dibanding pada zaman sekarang sangat jauh bertolak belakang, yang notabennya era komunikasi teknologi, dimanakah letak kegagalan kita era sekarang yang tidak kita punya pada zaman dahulu, apakah konsepnya? Apakah metodenya? Ataukah hal lain yang mungkin perlu dimiliki oleh seorang da’i.
Atas dasar inilah kita perlu mempelajari metode dakwah pendahulu sekaligus mengintropeksi diri serta mengevaluasi kegiatan dakwah kita selama ini, agar apa yang selama ini yang jadi idaman semua umat manusia tercapai yakninya Baldatun, Toyyibatun, Warabbun Ghafuur, langkah ini kalau boleh meminjam istilah sekarang perlu manajemen dan planning yang matang, hal ini dengan mengkaji dari kemajuan dan kemunduran pada masa lampau.
Bukankah penyelenggaraan dakwah dari waktu kewaktu dan dari masa kemasa semakin komplek, seiring dengan kemajuan islam dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi dalam berbagai bidang kemajuan. Teknologi dan pengetahuan mampu merubah pola pikir dan sikap umat dalam merespon segala kejadian disekitarnya.
Pada satu sisi kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak disalah gunakan manusia sehingga mereka melupakan tujuan utama dari kehidupan yaitu untuk mencapai keridhoan Allah SWT (Mardhatillah) akibat dari kesibukan mereka dalam mencari kepuasan duniawi telah menyita hampir seluruh dari waktu mereka, terjadilah kegersangan jiwa agama ditengah-tengah kehidupan umat manusia.
Untuk menanggulangi hal tersebut diatas perlu diusahakan berbagai alternatif untuk penyelenggaraan dakwah, sehingga dakwah cepat sampai kepada umat dengan tidak menyita banyak waktu , serta dakwah mampu menyentuh hati dan menyinari jiwa yang gersang dari agama Islam. (Abdurrahman, Lc Hal 3 1996)
Kalau kita lihat pula pada masa khalifah harun ar-rasyid berbagai macam cara beliau untuk memotivasi da’i, salah satu diantaranya ialah ketika khalifah mengirim surat kepada para wali (gubernur )nya beserta panglimanya isinya antara lain” agar para pejabat memberikan kepada para ulama, pelajar (cendikiawan ) hadiah, beliau berkata : barang siapa diantara kalian yang menghafal al-qur,an, meriwayatkan hadits dan mendalami ilmu syari’at islam serta menterjemahkan buku-buku dan meramaikan majelis ilmu dan tempat-tempat penididikan , maka catatlah ia sebagai pemenang yang mendapatkan hadiah sebesar seribu dinar. (Lihat dalam karangan Ibnu qutaibah”Al-Imamamh Wassiyasah Jilid. 1 Hal: 99)
Pada aba ke enam sultan nuruddin Muhammad zanky, didamaskus mendirikan madrasah cukup terkenal yaitu an-nuriyyah, sarana yang terdapat di madrasah ini antara lain perumahan untuk para pengajar, ruang-ruang besar untuk latihan ceramah, asrama tempat tinggal siswa, tempat peristirahatan siswa, demikian pula bagi khadam (pelayan ) disediakan pula tempat khusus, termasuk didalam wc nya, kamar mandi yang banyak. Lihat. (ustazd athiah al-ibrasi at-tarbiah al-islamiyyah,hal :71-74)

B. Rumusan Masalah
Pokok permasalahan yang perlu dikaji lebih dalam disini bagaimana Da’i mampu memadukan keunggulan Da’i zaman dahulu dengan zaman modern sekaligus Da’i era sekarang mampu memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin, bagaimana Da’i bisa memahami bahasa Arab dan mampu berbahasa Arab lancar, bagaimana Da’i bisa mencontoh metode yang dilakukan oleh nabi saw, bagaimana Da’i fokus terhadap bidangnya ( tidak ikut dalam kancah politik), agar ia bisa memenuhi panggilan Allah SWT menjadi Khairu Ummah

1. Batasan Masalah

Da’i yang ideal itu berbeda-beda orang menilai dan menafsirkannya , maka dalam hal ini kami membatasi masalahnya hanya diperiode Rasulullah, khulafarasyidin dan khalifah Bani Abbasiyah, tidak lupa pendapat ulama, cendikiawan kontemporer serta masa perkembangan teknologi (……. M)

2. Penjelasan Judul

Judul ini didukung oleh beberapa istilah yang menurut hemat kami perlu penjelasan agar tidak terjadi salah pemahaman dalam menilai maksud dan tujuan
1. Dalam kamus bahasa Indonesia ideal artinya “sesuai dengan yang diharapkan”.
2. Da’i ialah sebutan bagi orang yang menyampaikan ceramah,atau orang yang melakukan aktivitas dakwah (subjek dakwah )
3. Era ialah zaman
4. Komunikasi ialah pertukaran informasi dari satu orang ke individu lain atau kelompok masyarakat atau Komunikasi artinya adalah berbagi. Kita berbagi dan saling bertukar minat, perasaan, pikiran, pendapat atau informasi dengan media rangkaian kode-kode, yang terbentuk sebagai sinyal dan simbol-simbol, yang dapat dimengerti dan dipergunakan oleh semua mitra komunikasi itu.
5. Teknologi yang dimaksud disini ialah alat elektronik yang mampu menjadi penyimpan bahan ceramah sekaligus alat untuk mempermudah penyajian materi ceramah berupa Laptop, TV, Radio, dan Internet dll.
6. Metode artinya cara, jalan, alat atau gaya. Dengan kata lain, metode berarti “jalan atau cara yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu, atau juga disebut dengan cara, langkah, dan strategi.
7. Modern artinya baru.
8. Khulafarasyidin orang yang diberi petunjuk oleh allah SWT
9. Ulama ialah orang memiliki kedalaman ilmu keislaman sehingga dengan ilmunya itu orang terbimbing dari kegelapan kepada jalan yang terang benderang.
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam mengajukan proposal ini adalah memenuhi panggilan Allah ;

                
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu kedalam islam secara keseluhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah shetan, sesungguhnya shetan itu musuh yang nyata bagimu(Al-Baqarah;208)


1. Bagaimana Da’i era modern mampu memadukan sisi keunggulan da’i zaman dahulu dengan sekarang.
2. Bagaimana Da’i era sekarang memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin
3. Bagaimana Da’i mampu memenuhi panggilan Allah SWT menjadi Khairu Ummah


2. Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan penelitian untuk melengkapi dan memenuhi persyaratan tugas metodologi penelitian semester empat tahun ajaran 2009 M / 2010 M.
b. Sebagai sumbangan pemikiran dalam menyukseskan da’I untuk berdakwah di ababd modern.
c. Untuk menambah ilmu dan wawasan penulis

D. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
a. library Research (penelitian perpustakaan) yaitu penulis langsung ke perpustakaan untuk mengadakan penelitian, menganalisis berbagai macam sumber buku bacaan serta diskusi dengan pihak terkait guna mendapatkan data seobjektif mungkin.
2. Sumber Data
a. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber utama yaitu pihak-pihak yang terlibat langsung dalam dakwah tersebut, hal ini khusus pada metode dakwah era modern.
b. Data sekunder adalah sumber penunjang atau pelengkap yaitu buku-buku referensi yang ada dan relevan dengan pembahasan yang penulis teliti.

3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang penulis pakai dalam pelaksanaan penelitian ini adalah:
a. Observasi yaitu pengamatan yang dilakukan secara sengaja dengan membaca berbagai macam sumber buku.
b. Dengan cara membuka situs-situs organisasi di internet
4. Teknik Analisis Data
Setelah data-data penulis peroleh, kemudian penulis olah dengan menggunakan beberapa metode yaitu:
a. Deduktif : Yaitu bertolak dari data yang bersifat umum untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat khusus.
b. Induktif : Yaitu hal-hal yanng bersifat khusus untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat umum.
c. Komparatif : Yaitu dengan cara memperbandingkan berbagai pendapat, dari hasil perbandingan tersebut ditarik suatu kesimpulan.

E. Sistematika Penulisan
Dalam rangka pembahas proposal ini agar terstruktur dengan baik, maka penulis mempedomani sistematika penulisan sebagai berikut;
Bab I ini merupakan Bab Pendahuluan yang terdiri dari;
A. Latar belakang.
B. Rumusan masalah.
C. Tujuan dan kegunaan penelitian.
D. Metode penelitian.
E. Sistematika penulisan.

Bab II ini akan Pembahasan tentang idealnya seorang da’i di Era komunikasi teknologi yang terdiri dari;
A. Pengertian Da,i dan hukum berdakwah berdasarkan Al-qur;an dan Hadits.
B. Metode-Metode dakwah
Metode dakwah Rasulullah
Metode dakwah khulafa rasyidin
 Abu bakar siddiq
 Umar bin khattab
 Usman bin affan
 Ali bin abi tholib
Metode dakwah khalifah bani umayyah
 Muawiyah bin Abu Sufyan
 Abdul Malik bin Marwan
 Al-Walid bin Abdul Malik
 Umar bin Abdul Aziz

Metode dakwah bani abbasiyyah
 Harun al-Rasyid (786-809)
 Al-Ma'mun (813-833)

Metode Dakwah para pembaharu
 Ibnu Taimiyyah
 Muhammad Abdul wahhab ( gerakan wahabiyyah )
 Muhammaad Abduh dan Rasyid Ridho
 Hasan Al-bana (Ikhwanul Muslimin )
 Taqiyyudin An-Nabany (Hizbut Tahrir )
C. Sarana Da.i di Era Modern serta penggunaannya.
a. Radio
b. TV
c. Laptop
d. Internet

D. Da’i yang ideal di era komunikasi teknologi.
1. Ditinjau dari segi Komunikator
2. Ditinjau dari segi Pesan
3. Ditinjau dari segi Komunikan
4. Dinjau dari segi Metode
5. Ditinjau dari segi Media
6. Ditinjau dari segi Tujuan
BAB III Tantangan Da’i di Era Modern
A. Intern
1. Diri Pribadi
2. Keluarga


B. Ekstern
a) Bangsa Yahudi
b) Media
c) Masyarakat
d) Pemerintah

BAB IV Penutup terdiri dari Kesimpulan dan saran
OUT LINE

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
D. Metode Penelitian
E. Sistematika Penulisan
BAB II : PENGERTIAN DA’I
A. Pengertian da’i dan hukum berdakwah berdasarkan Al-qur;an dan Hadits
B. Metode-Metode dakwah
C . Sarana Da.i di Era Modern serta penggunaannya.
BAB III TANTANGAN DA’I DI ERA MODERN
Intern

Ekstern

BAB II1 : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA



DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Amrullah. Dakwah sebagai ilmu sebuah pendekatan epistomologi islam,Yogyakarta: 1994
Hazin, Nur Khalif. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: Terbit Terang, 2004
Departemen Agama RI. Al-quran dan Terjemahnya , Semarang: Thoha Putra, 1989
Dr. Aidh bin ‘abdullah al-qarni. Terjemahan Dari Kitab Tsalasuuna Waqfatan Fii Fannid Da’wati (30 Renungan Seni Berdakwah ) diterjemahkan oleh: Bahrun abu bakar ihsan zubaidi, lc, Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2005
Al-bana, Hasan . Menuju Masyarakat Madani , Diterjemahkan oleh Geys At-Tamimi, Surabaya: Pustaka Progressif, 1993
Tarmudji, tarsis , Metoda Dan Media Penyajian Materi, Yogyakarta: Liberty , 1996
Pimpinan Pusat Muhammadiyyah, Dakwah Kultural Muhammadiyyah, Yogyakarta : Suara Muhammadiyyah, 2005